Terima Kasih, Tuhan

28 November 2015

Saat embun pagi mulai menyapa
Saat ayam mulai berkokok
Saat adzan subuh berkumandang
Ku buka mata, menatap langit2 kamar
Kupandang sekeliling kamarku
Tempatku menutup mata, mengakhiri hari kemarin dan memulai hari ini

Tuhan
Terima kasih atas nafas yang masih bisa kurasakan,
Terima kasih atas suara yang masih bisa kudengar
Terima kasih atas alam yang masih bisa ku pandang
Dan terima kasih atas kasih yang masih Engkau berikan padaku

Saat kumerasakan hampa,
Kau temaniku dalam hariku
Kau jagaku dalam tidurku
dan Kau berikanku kasih yang tak terbatas

Meski
Kadang kumelupakan-Mu demi duniaku
Ku lalaikan segala perintah-Mu
Ku abaikan segala larangan-Mu
Namun engkau masih berikan kasih-Mu pada hamba yang begitu hina ini

Tuhan,
Ingatkanku disaat ku terlupa,
Sadarkanku disaat ku khilaf
Karena hanya Engkau penguasa segalanya

Tuhan
Terima kasih,
Atas segala yang kau berikan
Atas limpahan rahmatmu padaku
Izinkan aku menjadi hamba yang taat dan patuh pada- Mu
Izinkan aku menjadi salah seorang diantara umat-Mu yang berbahagia di surga-Mu
Karena hanya atas izinmu lah, segalanya dapat terjadi.

Sumber :  eva-abdullah.blogspot.co.id


posted in | 0 Comments

Ketukan hati 'Saat Adzan Subuh Berkumandang'

23 November 2015

   Aku menatap kosong langit langit kamar yang putih. Gelap.. Tapi suara deru adzan sang Muadzin menggema sampai di telingaku. Aku tak bergerak, tak juga beranjak. Yang kulakukan hanya diam, menatap dalam kebisuan. Menanti akhir seru deru adzan. Muadzin berpuji di dalam masjid yang sepi. Hanya seorang diri, menyeru sang Pencipta di tengah indahnya lelap sang mimpi. 


   Aku bahkan tidak beranjak dari tempt tidurku. Aku takut dinginnya hembusan angin malam, tapi mataku tetap memilih terjaga, memaksa telingaku untuk mendengar suara indah sang muadzin menyebut nama-Nya.
Bagaimana bisa? Aku yang terjaga, yang mendengar seruan justru tidak bergerak sama sekali. Padahal di masjid sana, terdapat banyak Shaf yang masih kosong. Sang muadzin masih setia menunggu hingga datangnya sang Imam. Tapi yang kulakukan hanya diam.


   Aku menatap hampa percikan air yang memancar dari pancuran kecil. Aku menatap langit yang bertabur beribu bintang. Belum terlambat bukan?
 Basmalah.. Awal dari semuanya. Telapak tangan putih kecil ini menggosok pelan. Air dingin itu menyentuh setiap kulitku. Mengalir pelan di pelipisku. Setiap tetesnya, kuucap doa dan niat.


   Wahai Tuhan yang tidak tidur, Kau berikan indah mimpi di tengah lelapnya tidurku. Padahal kau juga tahu, mimpi hanya buaian untukku.Gelapnya malam seolah mengintai, mimpi membujukku untuk tetap terlelap dengan khayal setan. Dan tidur dengan licik membunuhku dan hatiku. Aku mengabaikan ketika Adzan subuh memanggilku. Aku memilih merapatkan selimutku dari pada menyentuh air wudhu.


 Wahai Tuhan penguasa alam, Jika kau masih mengizinkan telingaku untuk tidak tuli, buat ia terus mendengar nama-Mu. Indahnya suara muadzin berseru, dan mataku terjaga untuk menatap jalan lurusmu. Tuhan.. Jika kehidupanku berawal di waktu subuh, maka biarkan ia berakhir di waktu subuh.

Sang Imam mengucap salam, Subuh telah usai, sang mentari telah menanti.


Sumber : dankonosuke.blogspot.co.id


posted in | 0 Comments
Postingan Lebih Baru Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

    Translate

    My Music


Recent Comments