Ketukan hati 'Saat Adzan Subuh Berkumandang'
23 November 2015
Aku menatap kosong langit langit kamar yang putih.
Gelap.. Tapi suara deru adzan sang Muadzin menggema sampai di telingaku. Aku
tak bergerak, tak juga beranjak. Yang kulakukan hanya diam, menatap dalam
kebisuan. Menanti akhir seru deru adzan. Muadzin berpuji di dalam masjid yang
sepi. Hanya seorang diri, menyeru sang Pencipta di tengah indahnya lelap sang
mimpi.
Aku bahkan tidak beranjak dari tempt tidurku. Aku takut dinginnya
hembusan angin malam, tapi mataku tetap memilih terjaga, memaksa telingaku
untuk mendengar suara indah sang muadzin menyebut nama-Nya.
Bagaimana bisa? Aku yang terjaga, yang mendengar seruan justru tidak
bergerak sama sekali. Padahal di masjid sana, terdapat banyak Shaf yang masih
kosong. Sang muadzin masih setia menunggu hingga datangnya sang Imam. Tapi yang
kulakukan hanya diam.
Aku menatap hampa percikan air yang memancar dari pancuran kecil. Aku
menatap langit yang bertabur beribu bintang. Belum terlambat bukan?
Basmalah.. Awal dari semuanya. Telapak tangan putih kecil ini menggosok
pelan. Air dingin itu menyentuh setiap kulitku. Mengalir pelan di pelipisku.
Setiap tetesnya, kuucap doa dan niat.
Wahai Tuhan yang tidak tidur, Kau berikan indah mimpi di tengah lelapnya tidurku. Padahal kau juga tahu, mimpi hanya buaian untukku.Gelapnya malam seolah mengintai, mimpi membujukku untuk tetap terlelap dengan khayal setan. Dan tidur dengan licik membunuhku dan hatiku. Aku mengabaikan ketika Adzan subuh memanggilku. Aku memilih merapatkan selimutku dari pada menyentuh air wudhu.
Wahai Tuhan penguasa alam, Jika kau masih mengizinkan telingaku untuk tidak tuli, buat ia terus mendengar nama-Mu. Indahnya suara muadzin berseru, dan mataku terjaga untuk menatap jalan lurusmu. Tuhan.. Jika kehidupanku berawal di waktu subuh, maka biarkan ia berakhir di waktu subuh.
Sang Imam mengucap salam, Subuh telah usai, sang mentari telah menanti.
Sumber : dankonosuke.blogspot.co.id
0 komentar:
Posting Komentar